Revitalisasi Kawasan Istana Balla Lompoa, Perkuat Identitas Gowa Kekinian

UPAYA membangun jati diri ke Gowa-an lewat museum Istana Balla Lompoa terus dilakukan oleh orang nomor satu di Gowa, Adnan Purichta Ichsan SH MH. Revitalisasi kawasan Istana Balla Lompoa adalah sebuah jalan untuk memperkuat identiti budaya. “Kita akan merevitalisasi kawasan Istana Balla Lompoa, karena di sana ada sejarah yang sangat panjang,” ujarnya di suatu waktu.

Tidak heran kalau Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gowa merespon dengan cepat, buah pikiran orang nomor satu di butta bersejarah itu. Berikut petikan perbincangan dengan Drs H. Sophian Hamdi M.Adm dengan REWAKO.CO
==== === ==

Apa alasan sesungguhnya sehingga Pemkab Gowa, melakukan revitalisasi kawasan Istana Balla Lompoa?

Kalau kita bicara soal Istana Balla Lompoa, kita tentu saja akan membawa ingatan kita pada sejarah yang sangat panjang. Di sini pernah bertahta seorang pahlawan nasional, Sultan Hasanuddin, yang diberi gelar Ayam Jantan dari Timur oleh Belanda. Karena itu, Bapak Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, berupaya dengan keras bagaimana identitas itu terus terjaga, salah satunya dengan cara bagaimana kawasan Istana Ballalompoa kita bisa jaga, dipelihara serta mengembangkannya sebagai warisan budaya yang sangat penting.

Apakah ada alasan lain?
Ya. Ini juga akan menjadi media edukasi bagi seluruh masyarakat yang berkunjung ke sana, bahwa ini menjadi salah satu bukti sejarah akan kebesaran Kerajaan Gowa di masa lalu.

Apa saja yang akan direvitalisasi nantinya?
Untuk tahap awal, kita akan lakukan penataan kawasan/lingkungan Istana Balla Lompoa dan Istana Tamalate. Selain itu, juga akan dibangun pusat pengembangan seni budaya, dengan melengkapi infrastrukturnya berupa panggung pementasan dan pertunjukan, juga galeri dengan memamerkan hasil karya dan cinderamata atau sovenir. Selain itu ada juga spot atau ruang santai dan lain sebagainya.

Langkah-langkah apa yang dilakukan Pemkab Gowa sebelum dilakukan revitalisasi tersebut?
Kita tentu saja membuka ruang bagi seluruh masyarakat Gowa termasuk keluarga Kerajaan untuk dapat memberikan saran dan masukan, terkait dengan rencana tersebut, dengan melakukan kegiatan seminar budaya sebanyak dua kali, pemaparan rencana teknis oleh konsultan proyek dan lain sebagainya.

Bagaimana pandangan sejarahwan dan budayawan terkait rencana revitalisasi kawasan Istana Balla Lompoa?
Dalam beberapa kali pertemuan termasuk dua kali seminar budaya, pada prinsipnya kegiatan revitalisasi adalah merupakan suatu langkah positif atau langkah maju yang dilakukan Pemda Gowa, dalam rangka menjaga dan melestarikan cagar budaya.

Adakah masukan lain soal itu?
Ada memang. Mereka menyarankan, bahwa revitalisasi yang dilakukan tidak menghilangkan nilai sejarahnya. Dalam arti, tidak mengubah bentuk dari keaslian yang masuk dalam cagar budaya. Namun untuk kawasan atau lingkungan sekitar dalam museum tersebut mereka menyerahkan ke Pemda karena tidak menjadi masalah.

Bagaimana dengan legalnya terkait dengan rencana revitalisasi tersebut?
Untuk museum atau bangunan Istana Balla Lompoa itu sudah terdaftar sebagai bangunan cagar budaya. Makanya, Pemda sesuai dengan amanat UU No.11 tentang cagar budaya jauh hari sudah mempersiapkannya, dengan terlebih dahulu membentuk tim pendaftaran dan tim ahli cagar budaya, untuk membuat dan menetapkan yang mana wilayah yang masuk sebagai kawasan cagar budaya dan mana tidak.

Terus!
Dengan begitu akan jelaslah, bahwa lokasi yang masuk cagar budaya adalah bangunan istana dan halamannya seluas enam ribu meter persegi—selebihnya masuk dalam kawasan pendukung saja dan inilah nantinya yang akan dilakukan penataan melalui revitisasi.

Harapan Anda setelah selesainya revitalisasi nantinya?
Kita tentunya berharap, bahwa Istana Balla Lompoa akan menjadi salah satu ikon dan destinasi wisata budaya nasional, sehingga Gowa bisa semakin dikenal di manca negara. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *