Sumpah Pemuda: Santri, Mahasiswa, dan Difabel Pahlawan Olahraga

JAKARTA,REWAKO.ID – Timnas sepak bola Indonesia gagal meraih kemenangan di ajang Piala Asia U-19 setelah kalah 0-2dari tim Jepang di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Minggu malam (28/10).

Dengan hasil itu, harapan timnas Indonesia untuk mempersembahkan kado terindah bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, pupus karena Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia U-20 di Polandia tahun depan.

Namun siapa sangka di balik tim Garuda Muda Indonesia ini ada sosok remaja santri dan satu-satunya pemain dari jebolan Liga Santri Nusantara 2016 yang menembus timnas. Namanya Muhammad Rafli Mursalim. Bernomor punggung 89, Rafli adalah alumni santri pondok pesantren Al-Asy’ariyah Tangerang Banten.

“Liga Santri memang untuk mencari bibit-bibit atlet sepak bola dari pondok pesantren. Sudah muncul tamatan Liga Santri yang menembus menjadi Timnas Indonesia, Rafli Mursalim,” kata Gus Rozin.

“Baru satu santri itu yang di Tim Garuda Muda.Harapannya dengan digelar secara rutin dan perbaikan kualitas kompetisi, Liga Santri ini akan muncul Rafli Rafli yang baru.”

Liga Santri Nusantara terus bergulir secara rutin tahunan digelar. Liga Santri 2018 ini sebagai ajang kompetisi sepakbola para santri diikuti 1.024 tim berbagai pondok pesantren di 32 daerah dari 34 provinsi di Indonesia. Laga final berlangsung di Solo antara tim sepak bola santri dari ponpes Nurul Khairat dari Balikpapan melawan tim ponpes Nurul Fajri Majalengka. Tim Balikpapan meraih juara dengan skor 2-1.

Tak hanya para santri muda yang menjadi pahlawan olahraga bagi Indonesia. Dua mahasiswi penyandang disabilitas dari Universitas Sebelas Maret atau UNS Solo mampu meraih medali ajang Asian Para Games 2018 lalu.

Ni Made Arianti, mahasiswi Pendidikan Luar Biasa FKIP UNS angkatan 2018 itu meraih 2 medali perak cabang olahraga atletik lari 100 meter dan 400 meter. Ni Made Arianti, mahasiswi sekaligus atlet para games, itu mengaku bangga bisa mengharumkan nama Indonesia di kompetisi olahraga tingkat Asia. Menurut Ni Made, dirinya mengalami disabilitas kategori low vision.

“Nama saya Ni Made Arianti Putri dari Bali. Saya mahasiswi angkatan 2018 ini, semester 1. Saya ikut di Asian Paragames cabang olahraga lari 100 meter dan 400 meter.Saya ikut pelatnas sejak tahun 2016, saya masuk kategori T47, low vision,” papar Ni Made Arianti

Tak hanya Ni Made Arianti, mahasiswi UNS penyandang disabilitas lainnya, Sri Sugiyanti, meraih 3 perak dan 1 Perunggu di cabang olahraga para cycling.

Juru bicara Universitas Sebelas Maret UNS Solo, Profesor Darsono, mengungkapkan kebanggaannya mahasiswa kampus ini bisa menjadi bagian sejarah olahraga tingkat Asia. Penghargaan berupa pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga lulus dan bonus lainnya disiapkan UNS bagi para mahasiswinya tersebut.

“UNS bisa mempersembahkan 3 mahasiswi untuk bergabung menjadi atlet tim Indonesia di Asian Paragames 2018 ini. Kita memberikan dispensasi pada mereka dari aktifitas perkuliahan selama mengikuti pelatnas. Ini menjadi bukti bahwa kampus ini friendly terhadap difabel, ramah difabel. Ini sudah dibuktikan para mahasiswi yang menjadi atlet internasional ini,” kata Prof. Darsono.

“Kami jelas sudah mempersiapkan penghargaan bagi mereka yang sudah berjuang mengharumkan nama kampus ini dan tim Indonesia di kancah Asian paragames 2018 ini, mulai dari pembebasan Uang Kuliah Tunggal dan bonus lainnya,” kata Prof. Darsono menambahkan. (VOA News)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *