Rindu Keluarga, 2 Pengungsi Somalia Pulang ke Kampung Halaman

Rabu, 23 September 2020 10:51

MAKASSAR,REWAKO.ID – Dua orang pengungsi asal Somalia pulang ke negara asalnya, Rabu (23/9/2020). Alasannya, rindu keluarga dan kampung halaman.

Dengan dikawal oleh tiga petugas Rudenim (Rumah Detensi Imigrasi) Makassar dan satu orang petugas Divisi Keimigrasian Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sulawesi Selatan.

Dua warga Somalia yakni, Ahmed Ali Sharef (22) dan Ugbad Ahmed,(22 ) dipulangkan secara sukarela (Assisted Voluntary Return/AVR) ke negara asalnya Somalia setelah menunggu di Indonesia selama enam dan tujuh tahun.

Ahmed dan Ugbad terpaksa mengungsi karena kerusuhan akibat perang melawan ISIS yang terjadi di negara itu..

Saat ditanyakan alasan memilih pulang, Uqbad menjawab bahwa saat ini kondisi di negaranya sudah berangsur membaik dan aman, jadi ia memutuskan pulang disamping juga karena rindu akan keluarga, ia juga mendapat kabar kalau ibunya sementara sakit di sana.

Berangkat dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, kedua pengungsi tersebut menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tengerang, menggunakan Pesawat Garuda Indonesia dengan kode penerbangan GA0641 pada Rabu (22/9/2020) pukul 10.45 Wita.

Selanjutnya, dengan menggunakan pesawat Qatar Airways pada hari yang sama pukul 18.25 WIB menuju Doha Hamad International Qatar kemudian dilanjutkan ke Mogadishu Aden Adde International Airport, Somalia pada pukul 03.40 waktu setempat.

“AVR atau pemulangan secara sukarela adalah salah satu solusi untuk mengurangi jumlah pengungsi di Indonesia, tetapi saat pengungsi mengajukan AVR tentunya juga tidak serta merta dikabulkan, pasti dilakukan verifikasi dulu apakah negaranya sudah aman atau belum” ucap Kepala Divisi Keimigrasian, Dodi Karnida.

Dodi menambahka, trending AVR tahun ini meningkat, berdasarkan data Rudenim Makassar 2019 hanya 8 orang pengungsi yang melakukan AVR, sementara sejak Januari 2020 sampai saat ini sudah 11 pengungsi yang memilih untuk pulang secara sukarela.

Trending tersebut meningkat disebabkan oleh beberapa alasan menurut Dodi, antara lain : rata-rata pengungsi di Kota Makassar sudah bermukim selama 5 sampai 9 tahun.

Terbatasnya aktivitas yang mereka dapat lakukan dikarenakan mereka bukan Warga Negara Indonesia, komunikasi yang intens dengan keluarga di negaranya membuat pengungsi merasakan “homesick”.

“Beberapa faktor tersebutlah yang membuat AVR menjadi preferensi yang relatif lebih mudah dibandingkan menunggu ketidakjelasan resettlement” jelas Dodi

Tak dipungkiri Ahmed dan Ugbad adalah potret pengungsi yang tak dapat menuntaskan mimpinya menuju negara ketiga guna pemukiman kembali, mereka terpaksa ‘bangun’ karena tak adanya kejelasan penempatan, ditambah lagi rasa rindu kepada sanak keluarga di negaranya yang tak sanggup mereka tahan.

Editor : Bahar Hardin

Penulis : Memed