Sikapi Isu Radikalisme, Kemenag Bulukumba Gelar Dialog Lintas Agama

Senin, 04 November 2019 12:14

REWAKO.ID, BULUKUMBA – Radikalisme tak hanya diisukan pada kelompok tertentu seperti Islam, namun juga pafa kelompok atau individu yang tidak toleransi terhadap kelompok lainnya.

Pernyataan tersebut dikemukakan Wakil Bupati Bulukumba Tomy Satria Yulianto, pada kegiatan dialog lintas agama yang digelar Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bulukumba di Cafe Wow Jalan Lanto Dg Pasewang, Senin (4/11/2019).

Radikalisme dalam gagasan Tomy, selain tentang informasi keagamaan juga banyak dari faktor sosial dan ekonomi. Mendeteksi cikal bakal radikalisme dan mencegahnya harus dilakukan secara menyeluruh dan menjadi tanggung jawab bersama.

“Kita tidak hanya terfokus pada pendekatan keagamaan tapi pada aspek sosial dan ekonomi. Mereka merasa tereliminasi dari lingkungannya. Mari sama-sama mencegah radikalisme dan penting melakukan langkah-langkah persuasif,” jelasnya.

Terkait penggunaan cadar, kata Tomy jika ada keluhan dari masyarakat, maka pemerintah akan melakukan dialog sebelum mengambil kebijakan. Sedangkan penggunaan celana cingkrang ditanggapi sebagai life style sepanjang tidak ada batasan-batasan dalam bergaul.

Sementara Kapolres Bulukumba, AKBP Syamsu Ridwan mengatakan, radikalisme tak bisa dipisahkan dari sikap intoleransi individu atau kelompok tertentu.

“Radikalisme sebagai ide gagasan atau pemahaman terkait keinginan merubah suatu sistem ideologi, politik, dan sistem pemerintahan secara masif dan mendadak. Dan Ini diwujudkan dengan tindakan atau aksi kekerasan,” jelas Kapolres.

Kepala Tata Usaha Kemenag, Muh. Yunus mengungkapkan, kegiatan ini bertujuan mempersatukan umat dan masyarakat dalam menguatkan NKRI.

“Pertemuan ini membahas beberapa poin seperti isu radikalisme, pakaian cadar dan celana cingkrang. Termasuk tentang hak-hak pemenuhan rumah ibadah dan kewaspadaan Kerukunan Umat Beragama,” kata Yunus.

Selain dihadiri Ketua MUI Bulukumba, KH. Tjamiruddin, juga peserta dialog dari tokoh lintas agama yakni Katolik dan Protestan serta perwakilan KUA dari tiap kecamatan. (Asmaun)

Editor : Bahar Hardin