Angkat Rumah Panggung, Tradisi Bugis-Makassar Turun Temurun

Kamis, 14 Oktober 2021 09:10

SULSEL,REWAKO.ID – Mengangkat rumah panggung ramai-ramai adalah sebuah tradisi turun temurun suku Bugis. Seperti yang berlangsung di Desa Kampiri, Kecamatan Citta, Kabupaten Soppeng, pekan lalu, yang dilansir dari Viva.co.id, Rabu (13/10/2021).

Awalnya, hanya beberapa orang yang tiba tapi lama-lama jumlahnya sudah mencapai ratusan. Mereka kemudian berbondong-bondong masuk ke kolong rumah panggung yang siap-siap dipindahkan dengan cara diangkat berjamaah.

Beberapa potongan batang bambu kecil yang sengaja telah dibuat melintang di tiang rumah dengan cepat langsung dikerubungi massa.

Aba-aba ‘1, 2, 3’ pun terdengar membuat ratusan orang langsung sigap mengangkat rumah. Riuh suara mereka langsung bergemuruh mengiringi terangkatnya rumah itu. Ibarat kawanan semut yang tengah mengangkat sebiji makanan, mereka bahu membahu membawa rumah itu berpindah dari tempatnya semula.

Rumah panggung bergerak terhuyung ke depan, kemudian agak serong, selanjutnya meringsek ke samping, dan melaju ke arah belakang, hingga sampai ke titik lokasi penempatan.

Rumah panggung itu milik Abdul Gani, salah seorang warga di Desa Kampiri, yang terdampak pembangunan jembatan gantung. Tiga bangunan rumah panggung lainnya telah lebih dahulu dibongkar.

Mengangkat rumah atau dalam bahasa Suku Bugis “Mabbule Bola”, merupakan tradisi turun temurun. Tak hanya sekadar semangat memindahkan rumah, tetapi momentum itu menjadi ajang silaturahmi dan kebersamaan.

Usai mengangkat rumah, para warga akan dijamu tuan rumah dengan panganan khusus dan khas saat momen angkat rumah, yakni minuman cindolo, yang terbuat dari tepung beras ketan, gula merah dan santan.

Melepas dahaga dengan minum cindolo berbalut kebahagiaan setelah berhasil menempatkan rumah panggung pada posisinya tanpa ada kerusakan pada bangunan, menjadi kepuasaan tersendiri bagi pemilik rumah dan warga yang datang mengangkat.(RRI Makassar)

Editor : Bahar Hardin