Apang Bugis-Makassar, Kue Tradisional yang Lagi Hits

Rabu, 13 Oktober 2021 11:08

MAKASSAR,REWAKO.ID – Kota Makassar, Gowa atau Sulawesi Selatan secara umum memiliki beragam makanan baik dari sekadar kudapan camilan ataupun makanan besar. Di Makassar beberapa bulan terakhir ini lagi hits makanan Apang Makassar atau orang Jawa menyebunya apem.

Kue tradisional khas suku Bugis-Makassar ini memiliki bentuk beragam, ada yang bentuknya segitiga, ada juga yang bentuknya kotak. Kue ini memiliki komposisi tepung beras dengan gula aren atau gula merah sehingga membuat tmpilan Apang bugis berwarna kecoklatan. Adapun cara membuat kue Apang Bugis ini adalah dengan dikukus.

Apang bugis, bagi masyarakat di Kota Makassar dan Gowa biasa dijadikan teman minum kopi atau teh di pagi hari sebelum berangkat kerja atau aktvitas lainnya. Apang bugis memiliki tekstur yang lembut serta rasa manis yang pas.

Menikmati kue Apang Bugis akan terasa lebih nikmat jika ditambah dengan parutan kepala segar. Sehingga rasanya akan lebih kaya, ada manisnya dan ada juga gurihnya.

Tidak sulit untuk mendapatkan kuliner khas yang satu ini, di beberapa sudut kota muda dijumpai berbagai penjual yang menjajakannya, ada yang menjual dengan tempat sederhana hingga tempat yang besar.

Salah satu penjual kue Apang Bugis-Makassar yang ramai pengunjung ada di daerah Kecamatan Parangtambung. Kedai Apang Bugis ini setiap harinya rama dikunjungi oleh pengunjung dan tidak pernah terlihat sepi.

“Belum lama juga saya berjualan kue Apang Bugis di sini, tapi untuk animo masyarakat menikmati kue ini sangat besar,” kata Kasma pemilik warung itu.

Ia mengatakan, kue Apang Makassar ini sempat tidak populer dan kalah dengan kue lainnya, tapi entah apa sebabnya kue ini kembali populer di tengah masyarakat.

Perempuan yang berasal dari Kabupaten Sidrap ini mengaku menjual satu kue Apang Bugisnya seharga seribu rupiah saja.

Sahabuddin, salah seorang penikmat Apang Makassar mengaku hampir setiap hari dirinya datang untuk membeli kue tradisional yang melegenda ini. Apang Bugis baginya bisa sebagai makanan penahan lapar hingga jam makan siang.

“Paling enak dinikmati sama kopi hitam tanpa gula, sebab rasa Apang Bugis kan sudah manis, jadi perpaduannya sangat pas,” ujar Sahabuddin.

Makanan Prosesi Sakral

Dulu sekali sekitar tahu 1960-an, kue Apang hanya bisa ditemukan saat ada acara-acara penting yang digelar di perkampungan. Dijadikan sesajian dalam prosesi sakral. Apang dinilai memiliki makna mendalam sehingga kehadirannya tidak boleh luput. Apang melambangkan harapan agar kehidupan tenteram dan aman.

Kue apang bugis sementara dikukus

Dalam buku Calabai, Perempuan dalam Tubuh Lelaki, karya Pepi AL-Bayqunie, ada satu gambaran cerita tentang ritual Songka’ Bala yang dilakukan para bissu di Segeri, Pangkep. Songka’ Bala berarti tolak bala. Ritual yang dilakukan untuk mengusir suatu wabah penyakit yang saat itu sedang menimpa warga Segeri.

Segala persiapan disediakan untuk ritual Songka’ Bala. Tujuh ekor ayam disembelih. Nasi dari tujuh warna beras ketan yang disajikan di atas nampan. Serta beberapa penganan khas bugis, seperti onde-onde, leppe-leppe, baje tejjaji, wenno, kaluku lolo, bokong, dan tentu saja apang.

Selain pada ritual Songka Bala’, apang kerap juga ditemui pada acara-acara Suku Bugis lainnya. Menre’ Bola (naik rumah), semacam acara untuk meminta perlindungan dan keselamatan dari Sang Khalik selama menghuni rumah agar terhindar dari gangguan roh jahat. Serta pada acara pernikahan dan aqiqah.

Editor : Bahar Hardin