Kisah Bandoi Dg Tinri, Tukang Jahit Sepatu di Bu’nea

Banyak Bersyukur, Beban Hidup Pasti Berkurang

Selasa, 26 Oktober 2021 14:24

REWAKO,GOWA.ID – Sudah 25 tahun Bandoi Dg Tinri jadi tukang jahit sepatu di depan Masjid ” Raodatussalihin ” Rappokaleleng. Dari penghasilannya, lelaki berkumis berusia senja itu menafkahi kelima anggota keluarganya.

Ditemui Rewako.id, warga Lingkungan Bu’nea Kelurahan Bontonompo ini menuturkan, sejak tahun 1996 usai sholat subuh ditunaikan, sekitar pukul 06.00 pagi sudah memasang alat peraganya ketika suasana pasar masih sepi.

“Dalam kurun waktu puluhan tahun, menjalani hidup sebagai tukang jahit sepatu diakui cukup berkah, dengan usaha ini walaupun penhasilannya terbilang sedikit namun mampu menyekolahkan ketiga anak tamat SMA,”kata Dg Tinri, Selasa (26/10/2021).

Dirinya menambahkan, hasil dari jerih payahnya walaupun pada Pasan mampu menutupi kebutuhan keluarganya selama empat hari.

“Jadwal pasar Rappokaleleng itu berulang, setiap 4 hari jedanya baru kembali pasar Rappokaleleng beroperasi”.imbuhnya.

Diceritakan, dalam setiap waktu pasar, dirinya sering mengerjakan 15-25 pasang sepatu.

“Tarifnya satu pasang sepatu dikisaran Rp.10 ribu- 20 ribu, jadi setiap pasar Rappokaleleng dirinya mendapat haisl jasa dikisaran 200 ribu- 350 ribu. Uang inilah yang menjadi persediaan kebutuhan keluarga kami selama 3 hari libur,”ujarnya.

Namun, dirinya mengaku pasrah, sejak Pandemi mengguncang, sudah dua tahun sudah pendapatannya melorot tajam.

“Sejak Sekolah ditutup, pesanan untuk menjahit sepatu melorot hingga 50 persen”.keluhnya.

“Kebanyakan langgana kami berasal dari siswa, guru dan Pegawai swasta”.tambahnya.
Beban hidupnya kian bertambah karena selama Pandemi, dirinya mengaku tidak pernah mendapat bantuan dari Pemerintah.

“Mungkin karena kami kurang dikenal sama tim pendata bantuan sosial dari Kabupaten atau Kecamatan dan Desa sehingga kami tidak pernah dapat bantuan pak, mau di apami pak na memang begitu kenyataannya”.ujarnya memelas.

Walaupun hidupnya terus didera beban soal ekonomi namun disorot matanya semangat untuk bekerja masih terus ada.

“Mengeluh tidak menyelesaikan masalah Pak, apalagi Alhamdulillah dua anak kami sudah berkeluarga,” dalam data KK, di rumah kami hanya anak bungsu dan isteri sebagai tanggungan saya. Dirinya tentu berharap apabila ada bantuan,”katanya.

“Sebenarnya banyak pesanan sepatu untuk perbaikan Plat sepatunya,” dominan kerusakan sepatu juga pada platnya, namun karena modal snagat sedikit sehingga kami tidak mampu melayani pesanan tersebut padahal apabila ada mesin itu, Keuntungan usaha kami bisa bertambah,”harapnya.

Sambil sibuk menjahit sepatu, dirinya berharap sekolah tatap muka bisa segera dimulai,” soalnya kalau siswa susah sekolah, pesanan kami juga bertambah,”ujarnya.

Dg Tinri, tukang jahit sepatu ini, kembali sibuk melayani beberapa pengunjung, sesekali tawar menawar terjadi, sebelum dirinya langsung sibuk bekerja. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 siang dan kami pun pamit kepada dirinya.

Dg Tinri lelaki asli Bu’nea kelahiran 1960 ini berharap ada perhatian terhadap usahanya.
(*)

Editor : Bahar Hardin

Penulis : Yos Mala'lang