Cakupan Vaksinasi di Bonsel Sudah Capai 71 Persen

Sabtu, 25 Desember 2021 09:12

GOWA,REWAKO.ID – Cakupan vaksin di Kecamatan Bontonompo Selatan (Bonsel) sudah mencapai 71 persen.  Cakupan ini sudah melebih arahan pemerintah pusat yakni, 70 persen.

“Selama ini kita melakukan vaksinasi di Bontonompo selatan sampai hari ini itu sudah 71 persen, karena kita melakukan vaksinasi selama 9 hari ini kita sisir per desa. Jadi satu hari itu satu desa, 7 tim, dan dari 7 tim itu kita bagi setiap dusun,” kata dia disela-sela kunjungan Bupati Adnan di Kantor Camat Bonsel, Jumat (24/12/2021).

Alasan melakukan vaksinasi per desa dalam setiap harinya karena dalam kondisi hujan. Menurut dia, tipologi masyarakat biasanya malas datang melakukan vaksinasi jika tertitik pada satu fokus dengan jarak yang jauh.

“Sehingga kita fokus satu desa dalam satu hari itu dengan 7 titik. Ada dua tim satu dusun, ada satu tim, Alhamdulillah sampai hari ini Bonsel cakupan vaksinasinya sesuai yang kita rekap di kecamatan itu sudah 71 persen,” ujarnya.

Dijelaskan lebih jauh, di Kecamatan Bontonompo Selatan terdapat 8 desa dan 1 kelurahan, dengan target sasaran 22.400, dan hingga saat ini berdasarkan data dari Puskesmas sudah berada diangka 71 persen. Olehnya dia berharap hingga tanggal 31 Desember mendatang, bisa berada diangka jauh dari target.

“Insya Allah kan masih ada waktu sampai lima hari, minimal kita berusaha 80 persen lah, melebihi target,” katanya.

Dia mengatakan, dirinya sudah memerintahkan kepada semua RT untuk mendatangi setiap Kartu Keluarga. Dimana mereka akan melakukan validasi data, jumlah yang telah melakukan vaksin dan belum melakukan vaksin dalam satu Kartu Keluarga.

“Jadi sekarang ini para RT sudah bergerak, dan mungkin dua sampai tiga hari ini kita sudah tahu, berapa orang yang ada di wilayah kita yang belum melakukan vaksin,” kata dia.

Dia tidak menepis bahwa hari pertama dilakukan percepatan vaksin pihaknya memang menemukan banyak kendala, pertama adalah wacana hoaks yang diyakini warga bahwa vaksin bisa berdampak buru. Yang kedua adalah fobia terhadap jamu suntik.

“Bahkan ada yang bilang lebih baik saya dibunuh daripada disuntik, ada juga memang di satu KK itu ada tua renta, lumpuh dan sebagainya. Akan tetapi kita tetap bawa ke lokasi vaksin, namun setelah dicek oleh vaksinator kalau tidak memungkinkan, maka ditunda,” tandasnya.(*)

Editor : Bahar Hardin